Tampilkan postingan dengan label Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 September 2014

Pantun Hakekat Maulana Saidi Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi Q.S

(Maulana Lahir Tahun 1863 di Padang, merupakan seorang Wali Qutub yang membawa Thareqat Naqsyabandi dari Jabbal Qubais Mekkah, berpulang kerahmatullah pada hari rabu, tgl 07 April 1954 jam 13.05 siang dalam usia 87 tahun, dan dimakamkan di Buayan Lubuk Alung Sumatra barat)

Mengenai peramalan dari Dzikrullah menurut Beliau harus diamalkan secara berkesinambungan sesuai syairnya:

Kalau ingin tahu diparak ganting
Lihatlah dari guguk pelana
Kalau ingin tahu dilemaknya emping
Kunyalah dahulu lama-lama


Agar Tuhan dengan kita harus di upayakan dengan amal yang sungguh-sungguh, sehingga lebih dekat dengan urat leher kita sendiri, seperti Fatwanya:

Payah-payah mencari bilah
Bilah ada di dalam buluh
Payah-payah mencari Allah
Allah sangat dekat dengan tubuh

Cintanya kepada Allah, Rasul dan Guru dikiaskannya dalam pantunnya :

Guruh petir menuba limbat
Pandan serumpun di seberang
Tujuh ratus carikan obat
Badan bertemu maka senang

Dendang dua dendang tiga
Pecah periuk pembuat rendang
Biar makan biar tidak
Asal duduk berpandangan

Baginya menguasai ilmu metafisik bukan tujuan, tdk ada artinya metafisik tanpa Allah, tujuannya adalah “ilahi anta makasudi waridhoka matlubi “ dan bagi orang yang beserta Allah tidak akan dapat dicederai dengan ilmu metafisik jenis apa pun, sesuai kias Beliau :

Pucuk sijali si jalintas
Pucuk sijali si jali muda
Dilangit tuan melintas
Kami dibalik itu pula

Segala derita diseluruh dimensi alam adalah masalah, dan segala masalah hanya dapat diatasi dengan dimensi yang dapat mengatasi masalah, Mengembalikan semua masalah pada dimensi absolute dengan teknik tertentu yaitu Allah SWT secara realita (bukan khayalita) membuat masalah akan selesai,denegan memberi hikmah kepada siapa saja yang terlibat dalam masalah tersebut, seperti petuah Beliau:

Padi pulut tiga tangkai
Dibawa orang indrapura
Dunia kusut akan selesai
Ujung dan pangkal telah bersua


Kisah Pendekar Muhammad Qessah

Muhammad Qessah adalah seorang pendekar ahli silat tak terkalahkah yang terkenal mulai dari Muara Sipongi di Sumatera Utara sampai ke Teluk Bayur di Sumatera Barat. Begitu hebatnya ilmu silat yang dimilikinya sehingga banyak orang berguru kepadanya terutama dari kalangan anak-anak muda di masa itu. Tidak kecuali pihak Belanda pun mengangkat Beliau sebagai pegawai untuk mengamankan daerah dan tentu saja tidak ada orang yang berani melawan Beliau. Beliau punya prinsip kalau kalah akan berguru tapi kalau menang orang yang kalah tersebut harus berguru kepada Beliau. Suatu hari tersiar kabar ada seorang Syekh Tarekat yang mempunyai ilmu tinggi yang tidak bisa terkalahkan juga dan murid-murid Muhammad Qessah yang semula berguru kepada Beliau berpindah berguru kepada Syekh Tarekat tersebut. Hal ini membuat Muhammad Qessah penasaran dan ingin sekali menantang Syekh Tarekat tersebut berkelahi, mengadu ilmu sesuai dengan prinsip Beliau kalau kalah akan berguru kepada orang yang bisa mengalahkan Beliau.
Beliau mengunjungi Syekh Tarekat tersebut dengan menunggang kuda. Ketika mau sampai ke rumah Tuan Syekh, Beliau berhenti ditepi sebuah telaga untuk beristirahat sejenak sambil mencuci muka dan memperbaiki letak penutup kepala Beliau dengan maksud ketika mengunjungi Tuan Syekh pakaian dan penampilan Beliau akan kelihatan rapi.
Ketika sampai di rumah Tuan Syekh yang tidak lain adalah seorang ulama Tasawuf terkenal didaerah Hutapungkut dan sekitarnya, Beliau bernama Syekh Sulaiman Hutapungkut, khalifah dari Saidi Syekh Sulamaiman Zuhdi di Jabal Qubais Mekkah, seperti sudah mengetahui kedatangan Muhammad Qessah, Syekh Sulaiman Hutapungkut menunggu di serambi rumah dengan hanya ditemani oleh istri Beliau.
“Assalamu’alaikum” kata Muhammad Qessah dengan suara lantang.
“Wa’alaikum salam” jawab Syekh Sulaiman Hutapungkut.
Muhammad Qessah dipersilahkan duduk dengan jarak lebih kurang 2 meter dari tempat duduk Syekh Sulaiman Hutapungkut, kemudian Syekh Sulaiman Hutapungkut bertanya, “Apa maksud kedatangan Tuan kemari?” dengan tanpa basa basi, Muhammad Qessah menjawab, “Saya ingin menantang Tuan Syekh mengadu ilmu!”
Syekh Sulaiman Hutapungkut dengan tenang menjawab, “Saya perhatikan, sorban tuan agak miring”.
“Ah tidak” Jawab Muhammad Qessah.
“Sebaiknya tuan bercermin dulu untuk memastikannya” Kata Syekh Sulaiman Hutapungkut. Kemudian Syekh Sulaiman Hutapungkut meminta istri Beliau untuk mengambil sebuah cermin dan kemudian cermin itu diberikan kepada Muhammad Qessah. Ketika Muhammad Qessah melihat cermin alangkah terkejutnya karena dicermin itu dilihat wajahnya penuh dengan coretan luka. Dalam hati Beliau berfikir kapan Tuan Syekh tersebut melukai mukanya padahal dari tadi Tuan Syekh tidak bergerak sedikitpun dari kursinya.
Kemudian Muhammad Qessah dengan penasaran bertanya, “Ilmu apakah ini Tuan Syekh?”
Syekh Sulaiman Hutapungkut menjawab, “Inilah ilmu antara diam dan gerak, ilmu sebelum berperang sudah menang”. Akhirnya Muhammad Qessah mengakui kehebatan dari Syekh Sulaiman Hutapungkut  dan berguru kepada Beliau. Syekh Sulaiman Hutapungkut hanya dengan sebuah cermin berhasil menundukkan seorang pendekar tak terkalahkan. 
Saidi Syekh Muhammad Hasyim al-Khalidi (1862-1952)
Singkat cerita, Muhammad Qessah ini kelak melanjutkan berguru ke Jabbal Qubais di Mekkah dan sempat memimpin suluk sentral seluruh dunia di sana selama 7 tahun berturun-turut. Muhammad Qessah adalah nama kecil dari Maulana Saidi Syekh Muhammad Hasyim al-Khalidi (Guru dari YM Ayahanda Guru).


Kamis, 10 April 2014

Sejarah Hidup Syekh Haji Abdul Majid (Guguk Salo)


Syekh Haji Abdul Majid adalah salah seorang guru dari YM Ayahanda Guru.
Sejarah Hidup Syekh Haji Abdul Majid ini disusun oleh:  
  • Buya Haji Ramli (khlalifah dan menantu Syekh Haji Abdul Majid)
  • M. Nur Engku Mudo (khalifah dan anak kandung Syekh Haji Abdul Majid)
  • Almanar HAM (anak kandung Syekh Haji Abdul Majid)

Syekh Haji Abdul Majid lahir di Lawang Mandahiling  tahun 1873 dan wafat tahun 1958 dan dimakamkan di Guguk Salo Kenagarian Lawang Mandahiling, Kecamatan Salimpaung Kab Tanah Datar.

Risalah Sejarah Hidup Syekh Haji Abdul Majid )Guguk Salo( diupload oleh Boy Yendra Tamin dalam blognya dengan memecahnya menjadi 16 segmen (posting) sebagai berikut:


 
  • Sejarah Hidup Syekh Haji Abdul Majid (Guguk Salo) [link_1]
  • Masa Kecil dan Mencari Ilmu Syekh Haji Abdul Majid Guguk Salo [link_2]
  • Kisah Syekh H. Abdul Majid Guguk Salo Dengan Ibu dan Mamak Pedagang [link_3]
  • Kisah Syekh H. Abdul Majid dan Cincin Guru [link_4]
  • Kisah Syekh Haji Abdul Majid Dirampok Penyamun [link_5]
  • Kisah Syekh Haji Abdul Majid Diberi Tongkat Amanah Oleh Orang Tak Dikenal [link_6]
  • Syekh Abdul Majid Memadamkan Api Dari Rumah Terbakar Dengan Tongkat [link_7]
  • Syekh Haji Abdul Majid Guguk Salo dan Kisah Tobat Di Warung Kopi [link_8]
  • Syekh Abdul Majid Berlayar Ke Tanah Suci [link_9]
  • Syekh H Abdul Majid Guguk Salo Berenang di Laut Merah [link_10]
  • Tongkat Syekh H Abdul Majid Guguk Salo Lenyap Saat Ziarah di Maqam Rasulullah SAW [link_11]
  • Kembali dari Tanah Suci: Syekh H Abdul Majid Mengajar dan Mendirikan Surau Guguk Salo [link_12]
  • Syekh Haji Abdul Majid Kedua Kalinya Kembali Ke Tanah Suci Ketika Dunia Transportasi Masih Sulit dan Misteri Soal Anak Kunci Di Kampung [link_13]
  • Syekh H. Abdul Majid Mengajarkan Ilmu Tashauf (Thariqat Naqsabandiyah) di Surau Guguk Salo [link_14]
  • Tamu Berdatangan Ke Surau Guguk Salo Termasuk Dari Singapura Dan Kisah Syekh H Abdul Majid Bertukar Ilmu Dengan Datuk Sirangkak [link_15]
  • Guguk Salo Mulai Dibaca Dan Syek Abdul Majid Mendirikan Suluk Di Suraunya [link_16